Thursday, January 19, 2012

sembahyang dengan bahasa

by Jurnal Sastratuhan Hudan on Thursday, January 19, 2012 at 12:23pm
kukia dia akan mengerti kalau malam ini aku sembahyang dengan bahasa. aku takut kehilangan jendela yang datang dalam mimpiku baru saja, orang orang di seputar jendela, lagu dan wajah aneh orang orang yang mendengarkan lagunya. jendela itu membuat aku terkenang kembali sebuah rumah keluarga yang kini anggotanya sudah beranjak tua. udara di kota itu dingin dan hujan kapan saja bisa turun. jendela yang membukakan isi kamar ke dunia luar adalah tempat aku dibesarkan. di sanalah aku tumbuh dari anak menjadi remaja, tapi tidak saat setelah dewasa. aku jadi ingat lagi, jendela itu pernah kuceritakan dalam novelku, serta teringat novelku itu, bahwa aku telah menulis novel tapi belum pernah kusyiarkan. ada apa dengan diriku ini. orang menulis untuk disyiarkan. tapi aku menahan saja novel itu dalam sebuah arsip dan jendela itu membawaku kembali kepadanya. kalau jendela itu tidak datang, mungkin aku tidak pernah ingat bahwa aku pernah menuliskan novel tentang ayahku.

ayah datang dalam mimpiku melalui jendela itu. ia datang dengan nyanyian dan kami dalam mimpi, aku, adik perempuan dan adik lelakiku, mendengarkan nyanyian ayah. ayah di luar jendela rumah, mungkin di luar rumah, aku kurang tahu di mana persisnya keberadaan ayah. sebab dari balik jendela aku melihat ayah, bernyanyi dan dalam mimpiku itu ayah masih remaja seperti diriku yang sedang ada di dalam rumah itu. ayah menyanyikan sebuah lagu yang aku lupa judulnya. tapi isi lagu itu tentang seorang anak yang mengenangkan ibunya. bercucuran air mata bila kumengenangmu. surga itu di bawah telapak kaki ibu. inilah lagu yang dinyanyikan ayah saat ia masih remaja dalam mimpiku.

sudah sejak tadi malam perasaan hatiku sedih. kukira aku baru saja kehilangan, tapi apa, aku kurang tahu. perasaan hilang itu tak dapat kuhalangi. ia muncul serta merta dalam hatiku dan tak pernah hendak pergi. aku ingin menuliskannya tapi aku telah seharian menulis sehingga tubuhku lelah sekali. bahuku panas dan aku nyaris tak bisa duduk di meja dan kursiku yang selalu setia menemaniku bekerja. terutama kursiku, ia diam saja saat dirinya kududuki. tubuhku bergoyang goyang di atas kursi dan ia sabar menerima tubuhku yang bergoyang goyang di atas kursi. ujung meja tempat aku menulis, mungkin sama setianya dengan kursiku. berhari hari, bertahun tahun, kedua lenganku tertumpu padanya, dan sekali pun dia tak pernah mengeluh bahwa dirinya ditindih oleh lenganku.

aku mengucapkan perasaan terima kasihku kepada kursi dan mejaku, dengan ucapan yang pelan sekali. bahasa yang keluar dari diriku hanya terdengar olehku seorang. tapi kukira mereka mendengarkanku lewat jiwa kami yang bergetar. kursiku tahu bahwa aku telah berterima kasih kepadanya. mejaku juga. oleh perasaan ini timbul rasa sedih dalam hatiku dan demikianlah pelan pelan aku menggeser alatku bekerja, agar bisa menaruhkan wajahku yang kecil ke atas wajahnya. kuletakkan wajahku dan kutempelkan pipiku ke atas meja dan kedua tanganku bergerak merengkuhnya. mejaku, kataku, tanpa ada suara lain selain suara itu. lama aku begitu, sebelum menyadari bahwa meja itu telah mengubah dirinya, juga kursi yang sedang kududuki mengubah dirinya.

sudah beberapa hari wajah ayah datang dan kulihat wajah ayah dalam kenangan. saat ayah masih muda dan saat aku masih anak ayah yang masih muda. wajah yang bahagia dan keras hati. wajah ayah sangatlah khas bagi kami anak anaknya, juga bagi orang yang pernah mengenalnya. sorotnya bertukar tukar seolah hidup ini sendiri. kadang membatu dan dari kedua matanya keluar api. kadang lembut seolah wajah ibuku yang meski lembut tak kuasa menyembunyikan kekerasannya dalam bentuk yang lain. aku bisa menangkapnya walau ia jarang memperlihatkan kekerasan hatinya. oleh itu mungkin aku tak kaget, menyadari bahwa kursi dan mejaku telah mengubah diri mereka jadi sosok ayahku. tanganku masih mendekap mejaku tapi mejaku telah berubah jadi ayahku. seolah nyata sekali, bahwa tubuh ayahlah yang sejak tadi kudekap sambil meratapkan rasa kasih dan sayang.

ayah, kataku, apakah kamu berbahagia di usia tuamu saat ini? ayah telah tua dan tidak muda lagi. aku juga mulai beranjak tua, ayah, walau belum begitu tua. tapi ayah telah tua dan apakah ayah merasa bahagia dengan usia ayah yang tak lagi muda?

kurasakan wajah ayah di tanganku dan tanganku terasa memegang air mata. apakah ayah menangis, kataku. ataukah itu air mataku sendiri, kataku. sepanjang hidupnya ayah tak pernah menangis. wajahnya lembut dan membatu dalam keinginannya sendiri. tapi jelas aku telah memegang air mata walau aku masih ragu air mata siapakah yang kupegang itu. mungkin air mataku karena mulai menyadari kembali itu bukan wajah ayah tapi adalah meja tempat aku bekerja. lihatlah, air mata telah ikut bekerja juga dalam jiwamu. bahwa kamu telah membuat mimpi mimpi dengan air mata yang tanpa kamu sadar telah mengalir dari sarangnya.

No comments:

Post a Comment